“Ibu, saya
mau curhat” ujar seorang emak siang itu, ketika acara BPJS SATU bersama
Blogger.
Perempuan paruh baya, memulai mengisahkan
pengalaman pahit satu setengah tahun silam. Ketika membawa ayahnya, berobat ke
salah satu rumah sakit di daerah Jakarta Timur.
Sebagai peserta BPJS Kesehatan, si emak merasa
tidak diprioritaskan dalam pelayanan. Kamar kelas satu dinyatakan penuh,
padahal ketika dichek banyak yang kosong. Beberapa kejadian lainnya,
benar-benar memancing emosi.
Sementara kondisi orangtua yang sakit makin kepayahan,
akhirnya dengan berat hati (dan sambil marah tentunya) fasilitas BPJS Kesehatan
dikesampingkan. Emak ini bersedia
membayar, pihak rumah sakit baru bersedia menangani. “Saya kapok ke rumah sakit
ini” gerutu si emak
Saya yakin, banyak kejadian tak mengenakkan di
lapangan. Terkait pelayanan beberapa rumah sakit, yang menomorduakan pasien peserta
BPJS Kesehatan.
Untuk meminimalisir hal-hal tak diinginkan di
lapangan, BPJS Kesehatan kini punya program BPJS Satu ! (Siap Membantu)
BPJS SATU !
Belakangan marak, beredar kabar tentang rencana
kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Kenaikan yang berlaku efektif, pada awal tahun
2020. Sontak membuat riuh, tanggapan pro dan kontra terjadi, seperti biasa gaduh
di medsos.
BPJS Kesehatan sigap dan pro aktif, dengan melakukan
peningkatan kualitas layanan. Dan “BPJS SATU!” Adalah jawabannya.
Dwi Asmariyati -dokpri |
“BPJS SATU !” adalah optimalisasi peran petugas P3
(penanganan pengaduan Peserta) Rumah sakit. Merupakan Re-branding dari PIPP RS
(pemberian informasi dan penanganan pengaduan Rumah Sakit) menjadi BPJS SATU.
BPJS SATU ! diimplementasikan sejak 9 Desember
2019, memberi kepastian kehadiran petugas P3RS di rumah sakit. Peserta BPJS
Kesehatan, mudah menemukenali petugasnya, melalui seragam rompi warna orange
bertuliskan BPJS SATU!
Dengan adanya BPPJS SATU !, diharapkan akan terjadi
efek yang beruntun. Yaitu terjadi pembayaran claim tepat waktu, cashflow faskes
yang terjaga, kewajiban pembayaran tenaga kesehatan dan suplier terpenuhi.
Endingnya, apa saja yang menjadi keluhan peserta
BPJS Kesehatan menyangkut faskes bisa terselesaikan dengan adanya regulasi
baru.
Kalau kualitas layanan meningkat, maka investasi
faskes juga bertumbuh, peningkatan ruang rawat inap, ruang rawat inap khusus (ICU
NICU) tersedia. Dengan demikian, kompteensi tenaga kesehatan. layanan bisa
tuntas di faskes, sehingga meminimalisir pasien yang dirujuk di RS.
-----
Bener lho, sampai tulisan bagian in saja. Saya bisa
membayangkan, senyum emak (yang curhat di atas) pasti mengembang. Andaikata, program
BPJS SATU ! digagas satu setengah tahun lalu. Tak perlu ngotot dan berdebat,
karena sudah ada petugas BPJS SATU ! yang standby di Rumah Sakit.
Kemudahan
dari “BPJS SATU !”
Focus pada pelayanan informasi dan pengaduan, BPJS Kesehatan
menempatkan poster berisi nama petugas dan foto (ada nomor telponnya juga)
ditempel di lokasi stratgeis yang mudah dilihat peserta.
Selain petugas yang standby di RS, ada juga petugas
mobile yang bertanggung jawab pada beberapa RS. Selain itu ada aplikasi SIPP
(Saluran Informasi Penanganan Pengaduan), untuk kemudahan penyampaian dan penanganan
pengaduan.
Kemudian, apa
saja tugas dan tanggung jawab staf BPJS Satu.
Memberi layanan informasi dan penanganan pengaduan
peserta di RS (baik ketemu langsung petugas BPJS Kes maupun melalui petugas RS).
Memiliki kewajiban customer visit, kepada pasien
BPJS Kesehatan baik yang sedang dirawat atau tidak. Untuk meminta feedback
kepuasan peserta, serta mendapatkan masukan atas saran.
Memastikan management RS paham, perihal kebijakan
dan regulasi peserta JKN-KIS. (minimal regulasi umum yang dipahami petugas RS)
Melakukan koordinasi dengan petugas RS atau petugas
BPJS di kantor cabang. Sehingga setiap pengadian bisa ditangani.
Eit’s, yang tidak boleh diabaikan, petugas P3RS
memonitor jangan sampai ada pengaduan yang tidak ditindaklanjuti. Sehingga erpotensi,
mengurangi kepuasan peserta JKN-KISS.
Apa saja Layanan “BPJS SATU!” ?
Petugas harus bisa memberi informasi secara jelas
ttg program JKN
Wajib mendengarkan keluhan peserta dan hal-hal yang
tidak sesuai dengan ekspektasi pasien.
Memastikan pengaduan terselesaikan, dan masyarakat harus
berani memberikan masukan dan saran.
Pendaftaran bayi baru lahir, bagi peserta bukan
penerima bantuan iuran dan pekerja penerima upah. Jika ada bayi dari peserta
mandiri, orangtua bisa mendaftarkan bayi ke petugas BPJS SATU ! di RS atau melalui
aplikasi SIPP dan segera diproses. Status
kepesertaan langsung aktif.
Peserta perorangan atau peserta penerima upah, bisa
melakukan pengurusan denda pelayanan. Status non aktif karena pembayaran belum
dilakukan, peserta bisa melunasi dan menyelesaikan denda sesuai regulasi yang
berlaku (tidak perlu ke kantor BPJS Kes)
Peserta bisa mengecek status kepesertaan, bisa
melalui petugas di BPJS Satu di RS.
---
“BPJS Satu !”
adalah penguatan fungsi dan optimalisasi aplikasi, yang telah digunakan
petugas BPJS Kesehatan untuk pengelolaan pengaduan.
BPJS SATU ! |
Tapi kasusnya kadang kebalik ya, pernah juga kerabat saya yang BPJS penerima bantuan, itu sangat susah mendapatkan kamar untuk kelas 3 sekalipun. Ada yang kelas 2 atau satau yang otomatis harus bayar jika ingin segera dirawat. Alhamdulillah jika ada layanana BPJS SATU jadi apa yang menjadi keluhan langsung bisa disampaikan.
BalasHapusSemoga dengan BPJS SATU, pelayanan kesehatan nasional bisa ssemakin baik ya. Aku juga ga pingin kejadian emak itu terjadi ke ortuku nanti.
BalasHapusSemoga pelayan yang di erikan pada peserta BPJS akan semakin baik ya. Jangan sampai ada lagi cerita-cerita kauak ibu tadi. Agak miris dan kecewa banget klo sampe hal itu terulang lagi.
BalasHapusAku masih butuh update lagi si dari aplikasi BPJS yang fiturnya masih kurang. semoga di 2020 fitur aplikasi BPJS makin bisa mempermudah urusan orang-orang yang membutuhkan mba. Sukses selalu buat BPJS
BalasHapusJujur sih aku belum pernah menggunakan BPJS yang aku miliki, tapi aku berusaha tidak mengeluh tentang kenaikkan walau gak pakai. Sebenarnya sejauh ini beberapa teman dan keluarga yang menggunakan BPJS juga baik-baik saja pelayanannya. Walau memang gak semua pelayanan setiap rumah sakit sama ya, tapi memang BPJS harus terus meningkatkan pelayanannya sih.
BalasHapusJujur si ya, saya juga punya pengalaman gak enak ketika pake BPJS. Saat berobatin Ibu saya lebih gampang bayar sendiri dan benar2 dilayani dibanding pakai BPJS. Semoga aja di tahun 2020 dengan program yang baru layanannya makin baik amin.
BalasHapusSaya bukan pengguna BPJS, karena sudah sejak lama mendapatkan kartu KJS Kartu Jakarta Sehat. Tetap sih, kalau berobat hampir gak pernah pake itu. Kalau diingat2 kayaknya gak pernah saya pake juga deh. Nah ngomongin soal BPJS ini kalo diliat2 dr isu pelayanan yg tidak sama rata emang bikin gemas. semoga saja, dengan adanya BPJS Satu ini pelayanan akan semakin meningkat dan bisa sama rata.
BalasHapusSemoga dengan rebranding ini pelayanan BPJS makin oke. Kalau di RSUD bagus memang kerasa banget peningkatan pelayanannya. Berkali-kali aiu nganterin papa buat berobat pakai BPJS. Yaa ngantrinya emang disabar-sabarin aja, apalagi bagian penyakit dalam. Wkwkwk
BalasHapus